SUARA REDAKSI IDENUSANTARA - Luas area persawahan di wilayah kota Kupang terus berkurang pada kurun waktu 3 Tahun terakhir, dan ini menjadi ancaman bagi pengembangan pertanian sebagai pasokan hasil pertanian semakin menipis bahkan berkurang dari para petani di wilayah kota Kupang.
Baca Juga: UNADRI Berikan Beasiswa 4 Semester bagi Camaba Semester Genap, Ayo Buruan Daftar
Potret ini disebabkan oleh lajunya pengembangan wilayah pemukiman yang kian meroket dari tahun ke tahun di semua sudut kota Kupang.
Melihat lajunya pemukiman yang didominasi pembangunan perumahan oleh pengembang atau daveloper di kota Kupang, tentunya mengancam keberadaan areal persawahan yg ada di kota Kupang.
Pengamatan Tim Redaksi Idenusantara.com di beberapa areal persawahan di wilayah kota Kupang dari tahun ke tahun terus berkurang, misalnya di areal persawahan tengah kota Kupang di sekitaran GOR Oepoi, Oelon Sikumana, Sekitaran Wilayah Kolhua dan Belo, Bonik kelurahan Bakunase dan sekitaran daerah Labat kian terancam.
Potensi tergerusnya areal persawahan tersebut akan berdampak selain hasil pertanian, tentu berdampak hehilangan mata pencarian para petani sebagai pemilik lahan.
Ketika berdiskusi dengan beberapa pemilik lahan, apa penyebab semakin berkurangnya areal persawahan, semua menjawab karena tergiur dengan harga jual beli tanah yang mahal.
Mereka keluhkan, pembiayaan pajak yang terus naik, sehingga memutuskan untuk menjual areal persawahan kepada para pemilik modal.
Ancaman ini, sesungguhnya bagi tim redaksi idenusantara.com melihat adalah proses keterpurukan pola pikir dan kurangnya pemahaman terhadap aset bergerak yang seyogyanya harus dirawat, dijaga yang memrroduksi demi pemenuhan kebutuhan bukan saja petani tapi berdampak kepada masyarakat umum di kota Kupang.
Ini miris, ancaman ekologis dan keserakahan pemilik rupiah menjadi primadona yang memainkan perasaan dengan sejuta lembar rupiah, sehingga menggelapkan mata para pemilik lahan.
Kurangnya pemahaman dan keberpihakan pemegang kekuasaan terhadap lahan-lahan produktif, inilah penyebab edukasi dan inovasi pertanian.
Penting memang, jika dilihat areal persawahan di tengah kota. Itulah seharusnya dipikirkan oleh jasa pembuat kebijakan. Pentingnya diproduksi pertanian dan juga penyegaran wilayah kota dengan proses oksigen yang baik bagi kesehatan.
Ini sesungguhnya soal moral ekologis. Pembisnis tidak memikirkan dampak, yang ia pikirkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Kebijakan yang harus merawat dan menjaga bersama pemilik lahan.
Tulisan ini sekedar memotret keterancaman areal persawahan, yang berdampak ekologis kesejukan hilang, nantinya hanya gedung mewah tanpa udara khas dan areal produktif mati ditelan harga jual beli tanah yang mahal.
Artikel Terkait
Pemerintah Pusat Menargetkan 1,4 Miliar Wisatawan Nusantara Tahun 2023
Sekretaris Pemuda Pancasila Ende Desak Pemda Evaluasi Pengelolaan Wisata Pantai Kota Raja
Tanam Perdana Bibit Jahe; Kelompok Tani Nuk Mose Bilang Terimakasih Dion Dhima dan Gerbang Tani
Gubernur dan Penjabat Walikota Pantau Harga di Pasar Naikoten
Penjabat Wali Kota Kupang Ajak Gereja Terlibat Rumuskan Program Kemasyarakatan