"Setelah saya pelajari, diceritakan, memang bisnisnya ternyata menarik. Cuma enggak tahu kenapa dari awal saya enggak kepikiran sama sekali untuk nyari info dulu mengenai website itu," ujar perempuan yang berstatus sebagai ibu tunggal tersebut.
Cinta membuka toko di salah di salah satu marketplace yang diakui berasal dari China. Berbeda dengan platform belanja online lainnya, marketplace ini menggunakan USD Coin (USDC) alias Crypto sebagai alat transaksi.
"Nah, itu transaksinya menggunakan dolar, tapi dolar crypto. Jadi pakai USDC gitu," ungkap Cinta.
Dalam bisnis tersebut, Cinta dijanjikan akan memperoleh keuntungan sebesar 10 persen dari harga satu barang yang terjual. Namun, dia diwajibkan untuk membeli barang yang dipesan melalui pihak ketiga.
"Sistemnya kalau ada pesanan masuk, saya harus bayar dulu ke supplier. Jadi, nanti supplier akan proses pesanannya, baru akan dikirim ke customer," jelas Cinta.
"Nanti setelah customer terima barangnya, uang yang tadinya saya gunakan sebagai modal akan dikembalikan beserta komisi 10 persen," lanjutnya.
Masih belum sadar sudah jadi korban penipuan, Cinta mengaku bisnisnya selalu dibanjiri ribuan pesanan. Namun, memasuki hampir satu bulan berbisnis, Cinta akhirnya menyadari bahwa bisnisnya memiliki banyak kejanggalan, termasuk tidak bisa menarik uang yang diperoleh dan akun yang sering dibekukan.
Singkat cerita, dia akhirnya menelusuri asal usul marketplace tersebut. Di sinilah dia sadar bahwa platform tersebut ternyata bodong.
"Saya awalnya mencoba untuk ngomong baik-baik dengan Vincent, enggak bisa. Setelah saya kesal lalu mencaci maki pelaku, mendadak akun WhatsApp pelaku hilang dan saya tidak bisa masuk lagi ke akun toko," cerita Cinta.
"Jadi langsung dihapus akun WhatsApp-nya. Bukan di-block lagi," lanjutnya.
Ada puluhan korban penipuan asmara lainnya
Cinta ternyata tidak sendirian. Ada puluhan korban penipuan asmara lainnya yang sudah kehilangan ratusan juta. Dari cerita mereka, ada kesamaan pola dari pelaku penipuan.
Cinta mengatakan, ia memperoleh identitas 26 korban lainnya setelah mengumpulkan nomor telepon yang tertera di masing-masing toko marketplace bodong tersebut dan memeriksanya melalui aplikasi Getcontact.
"Saya yakin, toko yang ada di dalam marketplace itu pasti korban karena enggak mungkin ada orang lain yang tahu kecuali ditawarin pelaku. Apalagi, sudah jelas websitenya scam," kata Cinta.
"Saya hubungi nomornya satu-satu, akhirnya para korban juga mengaku kalau mereka kena penipuan yang sama," lanjutnya.
Bersama puluhan korban lainnya, Cinta telah mengajukan laporan ke pihak kepolisian bersama 26 korban lainnya. Cinta membeberkan, total kerugian yang dialami ke-27 korban termasuk ia adalah Rp3 miliar.
Artikel Terkait
Pesona Alam NTT Eksotismenya Memantik Candu Pegunjung Mancanegara
Pelindo Bali Nusra Suntik Dana Rp 6 Miliar, Dukung Renof Pelabuhan Ippi Ende
ESENSI MATA VERSI LEONEL YT
Cara Cek Nomor BPJS Kesehatan Cukup Pakai WhatsApp