Idenusantara.com-Kasus korupsi Pertamina yang dilakukan petinggi Pertamina masih menjadi sorotan publik, karena tindakan tersebut pula kekecewaan meluap dan berdampak pada beralihnya konsumsi BBM Pertamina ke yang lain.
Setelah lama dinanti klarifikasinya pasca muncul kasus mega korupsi di Pertamina, Menteri BUMN Erick Thohir akhirnya buka suara dan memberikan beberapa penyangkalan serta hal baik menurutnya soal transparansi yang kini sudah berusaha dilakukan oleh BUMN.
Baca Juga: Barcelona Kembali ke Puncak Klasemen La Liga Usai Berpesta Gol Atas Real Sociedad
Erick Thohir sendiri membantah tuduhan bahwa pihaknya kecolongan dalam kasus korupsi terkait tata kelola minyak dan produksi kilang.
Kasus tersebut melibatkan PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada periode 2018-2023, dengan total kerugian negara mencapai Rp 193,7 triliun. Dari sembilan tersangka, salah satunya adalah Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan.
"Ya enggak kalau kecolongan. Ya tentu pasti ada dinamika itu, ada ASDP kemarin (kasus korupsi), ya ada ini (korupsi Pertamina Patra Niaga), ya dulu ada Garuda," kata Erick.
Baca Juga: Ramadhan Berbagi, Faisal Bersama Rekan Berbagi Sembako Beras di Masjid Darul Muhajirin Pota
Erick menegaskan bahwa Kementerian BUMN tidak kecolongan setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap kasus korupsi di Pertamina Patra Niaga.
Menurutnya, selama ini pihaknya telah berupaya melakukan perbaikan sistem yang ada. Erick juga menyatakan bahwa Kementerian BUMN telah melakukan perbaikan laporan keuangan perusahaan pelat merah, melakukan koreksi diri, dan berani melaporkan kasus korupsi yang terjadi.
Baca Juga: Sudah Bisa Baca Koran, Berikut Update Kondisi Terkini Paus Fransiskus
Dalam proses transformasi, Erick mengakui adanya dinamika yang muncul, termasuk terungkapnya kasus-kasus kecurangan di dalam tubuh BUMN. Namun demikian, ia menegaskan bahwa perbaikan akan terus dilakukan di Pertamina sebagai respons terhadap kasus ini.
Sudah menjadi rahasia umum, kasus korupsi Pertamina ini bukan menjadi yang pertama karena sebelumnya kasus korupsi sudah terjadi. Dan hal tersebut seharusnya bisa menjadi pelajaran untuk mengantisipasi tindakan kotor itu terjadi. Apalagi jumlahnya mencapai ratusan triliun, tentu hal tersebut menimbulkan kekecewaan hingga keresahan karena banyak isu liar turut datang tentang BBM yang beredar selama ini sudah dioplos kualitasnya.