Menu MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri atas nasi, telur, sayuran berupa wortel dan jagung, serta susu UHT.
Susu sempat menjadi dugaan awal penyebab munculnya gejala pada sejumlah siswa. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan minuman masih ditunggu.
Baca Juga: Fresh Graduate Bisa Melamar! SuperTop Supermarket Kupang Buka Rekrutmen Bartender hingga 28 Oktober
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, menyatakan bahwa sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah untuk menjalani pemeriksaan.
“Sampel makanan yang dimakan semua, dari yang tersedia di bank sampel, itu dibawa untuk diperiksa,” ujar Fusia.
Menurutnya, pemeriksaan laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat tiga kali 24 jam. Durasi tersebut bergantung pada proses pengujian dan pemeriksaan sampel yang dilakukan oleh pihak laboratorium.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab kejadian, sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah evaluasi dan pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Sebagai tindak lanjut atas kejadian tersebut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01 dihentikan sementara selama 20 hari untuk keperluan evaluasi.
Penghentian operasional ini menjadi bagian dari langkah evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG setelah munculnya dugaan keracunan yang berdampak pada puluhan siswa di SMPN 2 Cisarua.
Baca Juga: TPG Guru Honorer Mulai Cair Oktober 2026, Cek Besaran Tunjangan dan Syarat Penerimanya
Evaluasi diperlukan untuk menelusuri proses penyediaan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan yang diberikan kepada para siswa. Meski demikian, penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium tersedia.***