TRAGEDI PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN ENDE

photo author
FD, Ide Nusantara
- Minggu, 5 November 2023 | 21:07 WIB
Penulis ; Hen Ajo Leda  (Foto: Dok. Pribadi)
Penulis ; Hen Ajo Leda (Foto: Dok. Pribadi)

Apapun yang diberikan oleh pemerintah, mereka terima dengan loyal dan diam. Jika ada warga yang melek pelayanan publik, mereka diam dan mendiamkan jika terjadi penyimpangan dan tidak mau menantang melakukan pengaduan atau advokasi terhadap pelayanan publik yang bermasalah.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir telah muncul aksi dan avokasi dari medan warga terhadap kualitas pelayanan publik, misalnya aksi menunutk reformasi pelayanan Dukcapil Kabupaten Ende, maupun aksi-aksi terhadap berbagai kasus korupsi (https://ekorantt.com, 2019; https://www.sergap.id, 2023), tetapi aksi dan advokasi tersebut tidak melahirkan suatu perubahan yang sistemik, yang kemudian dapat menggugah sikap emohnya birokrasi pemerintahan di Ende untuk bekerja dan berpikir secara serius terhadap kualitas pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan yang baik di semua bidang.

Karena itu, perang terhadap rendahnya kualitas pelayanan publik dengan melakukan perubahan yang sistemik terhadap kinerja birokrasi dan pemerintahan dengan mengarusutamkan politik pengetahuan/inovasi, politik kebijakan dan politik keberpihakan dalam mendistribusikan pelayanan yang bekualitas kepada setiap elemen masyarakat.

Baca Juga: KAMU IBU MILENIAL? BERIKUT TIPS MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF
Dalam opsi terakhir, warga yang aktif (cityzen active) sebagaimana rumusan paradigma NPS (Democratic Citizenship) tentang partisipasi warga merupakan jantung dalam pelayanan publik, sekaligus kunci untuk memperkuat kontrol warga terhadap kekuasaan agar lebih professional, akuntabel, dan mempersempit celah-celah patologis.

Akhirnya, jika kita terjebak dalam gegap gempita hegemoni elit politik dan penguasa kabupaten Ende, yang berusaha mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah-masalah pelayanan publik yang sebenarnya penting, maka ironi antara imajinasi visi-misi kabupaten Ende dengan realitas kualitas pelayanan publik dan kemiskinan yang terjadi saat ini akan terus berlanjut dalam sejarah kabupaten ini. Yang terjadi hari ini adalah sebuah tragedi, jika terulang lagi maka akan menjdi lelucon.

***Penulis : Hen Ajo Leda (Dosen Ilmu Pemerintahan STPM St.Ursula Ende

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: FD

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB

Gizi Anak Bukan Ruang Kompromi

Senin, 2 Februari 2026 | 05:12 WIB
X