sastra

CERPEN : Cinta yang Tak Direstui

Minggu, 19 Februari 2023 | 08:30 WIB
Foto ilustrasi galeri facebook js ( istimewa )

  Akhirnya, kelompok pemuda etnis cina itu kewalahan, dan menyadari situasi yang membahayakan mereka.

  "Mundur! Kita mundur dulu!" teriak pemimpin mereka. "Erlan! Kali ini kamu bisa lolos! Tunggu saja! Lain waktu aku pasti menghajarmu!"

  Mereka berlarian meninggalkan kancah pertarungan.

  "Hei! Kalian pikir bisa seenaknya saja pergi! Jangan lari!"

  "Hoi, banci! Jangan kabur!"

  Teman-temanku ramai mengejar. Namun segera kucegah!

  "Sudah! Biarkan mereka pergi! Tidak usah diperpanjang lagi!"

  Walau emosi masih meraja, tapi mereka menuruti apa kataku.

  Ternyata aku salah! Pertarungan itu tak berhenti hanya di situ. Di lain waktu, para pemuda etnis cina itu kembali membuat keributan. Bahkan beberapa teman yang ikut membantuku, ikut menjadi sasaran mereka. Masalah pun kian meluas. Hingga akhirnya pecahlah tawuran pemuda antar etnis yang berlanjut panjang sampai melibatkan hampir seluruh pemuda di kotaku.

Baca Juga: Curhatan Bersama Kapolsek Ndona; Warga Manulondo Senang dan Merasa Dekat Dengan Polisi

  Karena pemuda etnis pribumi yang ikut terlibat bertambah kian banyak, akhirnya para pemuda etnis cina kewalahan sendiri. Perasaan senasib sepenanggungan dan terbiasa merasakan keras getirnya hidup di jalanan, membuat kelompok pemuda etnis pribumi lebih kuat dan solid, dibandingkan para pemuda etnis cina yang terbiasa hidup enak, jarang merasakan keras getirnya hidup.

  Aku tetap berhubungan dengan Diana. Namun sebuah pesan dari teman-temanku sedikit membuatku berpikir.

  "Lan, kamu pasti tahu, apapun yang kamu lakukan, kami selalu mendukungmu! Dan kami, sahabatmu, yang akan terlebih dulu berada di depan! Namun, satu pesan kami demi kebaikanmu sebagai bahan pertimbangan. Perbedaan kalian terlalu jauh. Bagaimana dengan keluargamu sendiri? Bagaimana dengan keyakinanmu? Kalaupun kau bisa memilikinya, apakah kau bisa mempertahankannya sampai akhir hidupmu nanti? Apakah semua yang nanti kau peroleh, sepadan dengan apa yang kini kau perjuangkan?"

  Aku hanya termangu diam, menimbang segala kemungkinan. Namun gelora rasa mengalahkan segala logika. Aku dan Diana terus menjalani hubungan di tengah gejolak pergolakan antar etnis di kalangan anak muda yang kami timbulkan. Pertarungan demi pertarungan mewarnai hubunganku dengan Diana. Kami sama-sama bertarung ... aku menghadapi kelompok-kelompok anak muda dari etnis itu, Diana menghadapi hujatan saudara, kerabat dan temannya.

***

Halaman:

Tags

Terkini

PUISI: RASA TANPA KATA

Minggu, 10 September 2023 | 05:51 WIB

PUISI : Untukmu Ibundaku

Sabtu, 1 April 2023 | 18:16 WIB

PUISI : Tentang Diri

Sabtu, 1 April 2023 | 17:58 WIB

PUISI : Namamu Dalam Sujudku Yang Paling Serius

Minggu, 26 Maret 2023 | 12:09 WIB

PUISI : Deretan Kursi Jadi Saksi

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:44 WIB

PUISI : Rembulan

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:15 WIB

PUISI : Kamu Mencintaiku Adalah Cerita Lucu

Minggu, 26 Maret 2023 | 10:59 WIB

PUISI : Hiasan Cahaya Malam

Sabtu, 25 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Ayah Aku Lelah

Jumat, 24 Maret 2023 | 20:28 WIB

PUISI : Teringat Kembali

Rabu, 22 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Engkau Pulangkan Rindumu

Rabu, 15 Maret 2023 | 21:02 WIB

PUISI: Replika Kenangan ( Oleh: Ryzton Tolan )

Senin, 13 Maret 2023 | 22:39 WIB

PUISI : IBU (Oleh: Norlince Florida)

Minggu, 12 Maret 2023 | 22:42 WIB

PUISI : Kenangan

Kamis, 9 Maret 2023 | 11:25 WIB

PUISI : Di Keheningan Malam

Kamis, 9 Maret 2023 | 10:55 WIB

PUISI : Rindu Yang Bertamu

Rabu, 8 Maret 2023 | 20:16 WIB

PUISI : Rindu

Rabu, 8 Maret 2023 | 17:37 WIB