Akhirnya, kelompok pemuda etnis cina itu kewalahan, dan menyadari situasi yang membahayakan mereka.
"Mundur! Kita mundur dulu!" teriak pemimpin mereka. "Erlan! Kali ini kamu bisa lolos! Tunggu saja! Lain waktu aku pasti menghajarmu!"
Mereka berlarian meninggalkan kancah pertarungan.
"Hei! Kalian pikir bisa seenaknya saja pergi! Jangan lari!"
"Hoi, banci! Jangan kabur!"
Teman-temanku ramai mengejar. Namun segera kucegah!
"Sudah! Biarkan mereka pergi! Tidak usah diperpanjang lagi!"
Walau emosi masih meraja, tapi mereka menuruti apa kataku.
Ternyata aku salah! Pertarungan itu tak berhenti hanya di situ. Di lain waktu, para pemuda etnis cina itu kembali membuat keributan. Bahkan beberapa teman yang ikut membantuku, ikut menjadi sasaran mereka. Masalah pun kian meluas. Hingga akhirnya pecahlah tawuran pemuda antar etnis yang berlanjut panjang sampai melibatkan hampir seluruh pemuda di kotaku.
Baca Juga: Curhatan Bersama Kapolsek Ndona; Warga Manulondo Senang dan Merasa Dekat Dengan Polisi
Karena pemuda etnis pribumi yang ikut terlibat bertambah kian banyak, akhirnya para pemuda etnis cina kewalahan sendiri. Perasaan senasib sepenanggungan dan terbiasa merasakan keras getirnya hidup di jalanan, membuat kelompok pemuda etnis pribumi lebih kuat dan solid, dibandingkan para pemuda etnis cina yang terbiasa hidup enak, jarang merasakan keras getirnya hidup.
Aku tetap berhubungan dengan Diana. Namun sebuah pesan dari teman-temanku sedikit membuatku berpikir.
"Lan, kamu pasti tahu, apapun yang kamu lakukan, kami selalu mendukungmu! Dan kami, sahabatmu, yang akan terlebih dulu berada di depan! Namun, satu pesan kami demi kebaikanmu sebagai bahan pertimbangan. Perbedaan kalian terlalu jauh. Bagaimana dengan keluargamu sendiri? Bagaimana dengan keyakinanmu? Kalaupun kau bisa memilikinya, apakah kau bisa mempertahankannya sampai akhir hidupmu nanti? Apakah semua yang nanti kau peroleh, sepadan dengan apa yang kini kau perjuangkan?"
Aku hanya termangu diam, menimbang segala kemungkinan. Namun gelora rasa mengalahkan segala logika. Aku dan Diana terus menjalani hubungan di tengah gejolak pergolakan antar etnis di kalangan anak muda yang kami timbulkan. Pertarungan demi pertarungan mewarnai hubunganku dengan Diana. Kami sama-sama bertarung ... aku menghadapi kelompok-kelompok anak muda dari etnis itu, Diana menghadapi hujatan saudara, kerabat dan temannya.
***