"Aku Diana. Ini temanku, Elsa," balasnya sambil menoleh ke arah temannya itu.
"Jadi, bukan tukang parkir nih?"
Aku tertawa pelan.
Baca Juga: Lajunya Pengembangan Pemukiman di Kota Kupang, Ancaman Ekologis Persawahan
"Memang bukan. Maaf ya. Itu dua temanku yang juru parkir di sini," sahutku sambil menunjuk ketiga temanku yang sedang serius memperhatikan bagaimana aku 'usaha'. "Kalau aku cuma nolongin mereka saja."
"Nolongin gimana? Emang mereka kenapa?" Diana bertanya heran.
"Mereka punya penyakit aneh. Kalau melihat cewek yang terlalu cantik, langsung kejang-kejang tak sadar. Karena itu, aku nolongin mereka, mewakili tugas mereka sebagai juru parkir," jawabku santai.
Diana dan temannya tertawa tersipu-sipu.
"Hhmm ... pintar sandiwara, juga pintar gombal rupanya, ya?" ucap Diana, "termasuk modus nih! Kayaknya aku mesti hati-hati menghadapi kamu."
Ganti aku yang tertawa tersipu. Dan basa-basi pun mengalir begitu saja. Berlanjut hingga saling tukar nomor hp dan alamat. Tak lama, Diana pun berpamitan, melanjutkan masuk ke mobilnya. Saat mobil melaju keluar area parkir, ia sempatkan melambaikan tangannya ke arahku. Aku balas lambaiannya, lalu berjalan kembali ke arah ketiga temanku nongkrong.
"Hahaha ... gila kamu, Lan! Bisanya ngegombalin! Dasar playboy cap kadal!" seru Edwin meledek.
"Erlan emang playboy berat! Tapi bukan cap kadal ..., buaya!" tambah Deni, "liat aja mukanya udah mirip gitu
Hahaha .... "
"Buaya buntung!" sahutku berlagak kesal, namun malah membuat tawa mereka semakin meledak.
***
Baca Juga: Tanam Perdana Bibit Jahe; Kelompok Tani Nuk Mose Bilang Terimakasih Dion Dhima dan Gerbang Tani
Perkenalan itupun berlanjut. Chat, telepon, ketemuan, keluar bareng, hingga ujung-ujungnya ... pacaran.
Artikel Terkait
PUISI : DI ATAS MOTOR TUA ENGKAU BERCERITA
PUISI : MENCINTAIMU DALAM DIAM