Dengan berbekal karcis parkir, setengah berlari, aku menghampiri kedua gadis itu.
"Mau keluar ya, Mbak," sapaku sambil melempar senyum.
Kedua gadis itu balas tersenyum. Salah seorang, yang berkaos putih, menatap aku dari kepala sampai kaki dengan pandangan menyelidik.
"Mas ini ... tukang parkirnya?" tanyanya sembari tersenyum simpul.
"Iya lah!" jawabku sambil menunjukkan bundelan karcis di tangan, "Masa satpam bawa-bawa karcis."
Gadis itu masih saja tersenyum.
"Tukang parkir, ya .... Kok gak bawa peluit?" ucapnya lagi.
Mendengar itu, seketika aku tertegun.
'Ya ampun ..! Aku lupa pinjam peluitnya juga!' batinku baru menyadarinya.
Namun, karena sudah kepalang basah, aku jawab saja sekenanya, "Peluitnya lagi digadai, Mbak. Biasa, buat bayar hutang!"
Kedua gadis itu tertawa tergelak mendengar elakanku.
"Beneran tukang parkir, nih? Bukan modus?" tanyanya lagi, masih sambil tersenyum simpul.
"Bagaimana kalau ada apa-apa? Mau aku laporin ke satpam, pa?"
Seraya tertawa, aku mengangkat tangan, menyerah. Kusodorkan tangan kepadanya.
"Namaku Erlan. Boleh kenalan gak?"
Gadis itu tersenyum merasa menang. Lalu menyambut uluran tanganku.
Artikel Terkait
PUISI : DI ATAS MOTOR TUA ENGKAU BERCERITA
PUISI : MENCINTAIMU DALAM DIAM