Sebelum aku sempat menjawab, Geral sudah lebih cepat berdiri membalas, "Heh! Kalo bicara bisa sopan, gak!"
Deni tak mau kalah.
Baca Juga: Sekretaris Pemuda Pancasila Ende Desak Pemda Evaluasi Pengelolaan Wisata Pantai Kota Raja
"Datang petantang-petenteng, bicara kasar seenaknya, sudah merasa jagoan, apa?" hardiknya tak kalah keras.
Suasana tegang langsung terasa. Aku segera menyabarkan kedua temanku itu.
"Tenang, Ral, Den. Sabar dulu. Kita tanya dulu apa mau mereka."
Aku melangkah mendekat. "Iya, aku Erlan. Ada perlu apa mencari aku?" tanyaku dengan nada biasa.
Salah seorang yang sepertinya menjadi pemimpin kelompok itu, berkata seraya menuding wajahku, "Jauhi Diana! Kamu tidak pantas berdekatan dengan dia! Gadis kalangan atas, mana mungkin berhubungan dengan gembel jalanan seperti kamu ini! Kamu pasti mengincar kekayaannya saja! Niat busukmu itu sudah terbaca! Jangan coba kamu teruskan, atau kami akan membuatmu sengsara!"
Seketika teman-temanku meradang, mendengar hinaan itu! Aku menghela napas panjang, meredam emosi.
Perlahan aku menjawab, "Maaf. Cuma Diana sendiri yang bisa menghentikanku bila ia menginginkan itu."
"Ah, banyak alasan! Menghadapi gembel jalanan seperti kalian memang tidak bisa pake omongan! Mesti pake kepalan!" bentaknya geram.
"Sudah, langsung hajar saja!" Yang lain berseru memanasi!
"Maju sini!" Teman-temanku pun menyambut!
Pertarungan tak terelakkan lagi. Sekitar 12 pemuda etnis cina mengeroyok kami berempat. Sesaat pertarungan berjalan tak seimbang. Namun tak lama, beberapa anak jalanan yang melihat pertarungan itu, langsung datang membantu kami. Pertarungan semakin seru! Kian lama, keributan itu memancing banyak perhatian. Beberapa pemuda yang mengenaliku atau mengenal teman lain yang terlibat pertarungan, segera ikut terjun ke dalam kancah. Jumlah kami pun kian bertambah!
Baca Juga: Pemerintah Pusat Menargetkan 1,4 Miliar Wisatawan Nusantara Tahun 2023
Artikel Terkait
PUISI : DI ATAS MOTOR TUA ENGKAU BERCERITA
PUISI : MENCINTAIMU DALAM DIAM