Namun Diana tidak peduli, rasa cinta telah terlanjur mengurat akar dalam hati. Baginya, aku adalah segalanya. Demi menjalani hubungan denganku, ia rela dan tabah menerima semua cemoohan juga tentangan yang menghalang.
Seperti saat ia dan teman atau saudaranya yang se-etnis, bepergian bersama dengan penampilan elegan, dan kebetulan bersua denganku yang 'nongkrong' bersama teman-teman di jalanan, maka ejekan, cemooh bahkan hujatan akan ia terima dari mereka. Juga saat teman atau kerabatnya kebetulan melihatku di suatu tempat, maka itu akan menjadi bahan obrolan untuk menyudutkan Diana, saat berkumpul.
Walau aku tahu betapa sedih dan tertekannya ia, namun Diana mampu selalu terlihat tegar di hadapanku. Ia tetap memegang teguh apa yang telah kami niatkan bersama.
Justru kebalikan dari Diana, akulah yang tak bisa menerima semua suara miring itu. Memang, yang menerima langsung semuanya itu adalah Diana. Namun, aku yang merasa sakit setiap kali jika tak tahan, ia menangis, bercerita padaku tentang cemooh dan tentangan yang ia terima.
Lebih menyakitkan lagi, aku tidak bisa berbuat banyak. Apa mesti aku memperingatkan, melabrak, membungkam suara-suara miring itu yang berasal dari kerabat Diana sendiri Saat dengan amat hati-hati, aku menyarankan Diana untuk memikirkan kembali dalam meneruskan hubungan ini, Diana menatapku tajam dengan sorot mata marah, kecewa juga terluka.
Baca Juga: Gubernur dan Penjabat Walikota Pantau Harga di Pasar Naikoten
"Mereka melukaiku dengan ucapan mencemooh! Tak apa, aku masih sanggup menerima. Namun kau akan langsung membunuhku dengan ucapanmu itu!" bisiknya getir.
Aku hanya mampu menghela napas panjang. Entahlah, apakah aku mesti bahagia mendapat cinta sebegitu besarnya dari seorang gadis cantik kalangan atas yang berbeda etnis? Atau mesti khawatir akan tantangan yang menghadang di depan mata?
Akhirnya, jiwa remajaku tak memedulikan itu semua! Jalani saja apa adanya! Cinta adalah anugerah. Nikmati kebahagiaan yang dirasa, selagi masih bisa. Jalan akan terbentang dengan sendirinya, bila memang jodoh. Pikiran simpel jiwa remaja!
***
Suatu ketika, karena kekerasan hati Diana yang tak memedulikan segala omongan itu, beberapa kerabatnya berniat memberi aku 'pelajaran keras' agar menjauhi Diana!
Beberapa kelompok anak muda dari etnis itu, menemuiku di tempat aku biasa nongkrong, untuk memberi pelajaran.
"Hei! Kamu yang namanya Erlan, ya!" tegur mereka kasar seraya angkuh bertolak pinggang.
Aku menatap mereka dengan alis berkerut.
Artikel Terkait
PUISI : DI ATAS MOTOR TUA ENGKAU BERCERITA
PUISI : MENCINTAIMU DALAM DIAM