CERPEN : Cinta yang Tak Direstui

photo author
Juang Sinyo, Ide Nusantara
- Minggu, 19 Februari 2023 | 08:30 WIB
Foto ilustrasi galeri facebook js ( istimewa )
Foto ilustrasi galeri facebook js ( istimewa )

  Namun Diana tidak peduli, rasa cinta telah terlanjur mengurat akar dalam hati. Baginya, aku adalah segalanya. Demi menjalani hubungan denganku, ia rela dan tabah menerima semua cemoohan juga tentangan yang menghalang.

  Seperti saat ia dan teman atau saudaranya yang se-etnis, bepergian bersama dengan penampilan elegan, dan kebetulan bersua denganku yang 'nongkrong' bersama teman-teman di jalanan, maka ejekan, cemooh bahkan hujatan akan ia terima dari mereka. Juga saat teman atau kerabatnya kebetulan melihatku di suatu tempat, maka itu akan menjadi bahan obrolan untuk menyudutkan Diana, saat berkumpul.

  Walau aku tahu betapa sedih dan tertekannya ia, namun Diana mampu selalu terlihat tegar di hadapanku. Ia tetap memegang teguh apa yang telah kami niatkan bersama.

  Justru kebalikan dari Diana, akulah yang tak bisa menerima semua suara miring itu. Memang, yang menerima langsung semuanya itu adalah Diana. Namun, aku yang merasa sakit setiap kali jika tak tahan, ia menangis, bercerita padaku tentang cemooh dan tentangan yang ia terima.

  Lebih menyakitkan lagi, aku tidak bisa berbuat banyak. Apa mesti aku memperingatkan, melabrak, membungkam suara-suara miring itu yang berasal dari kerabat Diana sendiri Saat dengan amat hati-hati, aku menyarankan Diana untuk memikirkan kembali dalam meneruskan hubungan ini, Diana menatapku tajam dengan sorot mata marah, kecewa juga terluka.

Baca Juga: Gubernur dan Penjabat Walikota Pantau Harga di Pasar Naikoten

  "Mereka melukaiku dengan ucapan mencemooh! Tak apa, aku masih sanggup menerima. Namun kau akan langsung membunuhku dengan ucapanmu itu!" bisiknya getir.

  Aku hanya mampu menghela napas panjang. Entahlah, apakah aku mesti bahagia mendapat cinta sebegitu besarnya dari seorang gadis cantik kalangan atas yang berbeda etnis?  Atau mesti khawatir akan tantangan yang menghadang di depan mata?

  Akhirnya, jiwa remajaku tak memedulikan itu semua! Jalani saja apa adanya! Cinta adalah anugerah. Nikmati kebahagiaan yang dirasa, selagi masih bisa. Jalan akan terbentang dengan sendirinya, bila memang jodoh. Pikiran simpel jiwa remaja!

***

  Suatu ketika, karena kekerasan hati Diana yang tak memedulikan segala omongan itu, beberapa kerabatnya berniat memberi aku 'pelajaran keras' agar menjauhi Diana!

  Beberapa kelompok anak muda dari etnis itu, menemuiku di tempat aku biasa nongkrong, untuk memberi pelajaran.

  "Hei! Kamu yang namanya Erlan, ya!" tegur mereka kasar seraya angkuh bertolak pinggang.

  Aku menatap mereka dengan alis berkerut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Juang Sinyo

Sumber: Cerpen

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

PUISI: RASA TANPA KATA

Minggu, 10 September 2023 | 05:51 WIB

PUISI : Untukmu Ibundaku

Sabtu, 1 April 2023 | 18:16 WIB

PUISI : Tentang Diri

Sabtu, 1 April 2023 | 17:58 WIB

PUISI : Namamu Dalam Sujudku Yang Paling Serius

Minggu, 26 Maret 2023 | 12:09 WIB

PUISI : Deretan Kursi Jadi Saksi

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:44 WIB

PUISI : Rembulan

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:15 WIB

PUISI : Kamu Mencintaiku Adalah Cerita Lucu

Minggu, 26 Maret 2023 | 10:59 WIB

PUISI : Hiasan Cahaya Malam

Sabtu, 25 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Ayah Aku Lelah

Jumat, 24 Maret 2023 | 20:28 WIB

PUISI : Teringat Kembali

Rabu, 22 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Engkau Pulangkan Rindumu

Rabu, 15 Maret 2023 | 21:02 WIB

PUISI: Replika Kenangan ( Oleh: Ryzton Tolan )

Senin, 13 Maret 2023 | 22:39 WIB

PUISI : IBU (Oleh: Norlince Florida)

Minggu, 12 Maret 2023 | 22:42 WIB

PUISI : Kenangan

Kamis, 9 Maret 2023 | 11:25 WIB

PUISI : Di Keheningan Malam

Kamis, 9 Maret 2023 | 10:55 WIB

PUISI : Rindu Yang Bertamu

Rabu, 8 Maret 2023 | 20:16 WIB

PUISI : Rindu

Rabu, 8 Maret 2023 | 17:37 WIB
X