CERPEN : Cinta yang Tak Direstui

photo author
Juang Sinyo, Ide Nusantara
- Minggu, 19 Februari 2023 | 08:30 WIB
Foto ilustrasi galeri facebook js ( istimewa )
Foto ilustrasi galeri facebook js ( istimewa )

  Ternyata, Diana putri dari orang terpandang. Orang tuanya adalah pemilik perusahaan real estate yang telah sukses membangun beberapa perumahan elit di kotaku dan sekitarnya. Tapi Diana tidak pernah sekalipun menunjukkan, apalagi membanggakan, keadaan ekonomi keluarganya.

  Ada satu hal yang sering mengganjal aku. Setiap kali kami berdua makan atau nonton atau membeli sesuatu, pasti setelahnya terjadi adu cepat siapa yang membayar. Diana lebih sering memenangkannya, karena alasan yang ia berikan tak bisa kubantah.

  "Nanti ada waktunya sendiri kamu akan mengeluarkan uang yang tak ada habis-habisnya untukku," ucapnya lirih seraya menatapku dalam-dalam, penuh arti.

  "Tapi kan itu belum tentu, Na," bantahku.

  "Jadi kamu tidak ada niat?" ia balas dengan nada tajam.

  "Tentu saja aku niat. Cuma kan ...."

  "Itu sudah cukup!" potongnya tegas, "jadi, sekarang adalah waktunya aku. Dan kamu, nanti!"

  Maka aku hanya bisa terdiam seraya menghela napas.

***

  Belum lama waktu berjalan kami lalui dengan bergandeng mesra, mulailah bermunculan ucapan bernada 'miring' ditujukan pada hubungan kami.

  Gadis kalangan atas, berhubungan dengan lelaki yang suka nongkrong di pinggir jalan? Apa si gadis buta? Apa sudah tidak ada lelaki lain, yang sepadan, yang mau dengannya?

Memalukan keluarga saja! Bagaimana bisa si gadis terpikat? Pasti lelaki itu pakai guna-guna atau ilmu pelet! Ya, pasti si lelaki mengincar kekayaan keluarga si gadis! Dan masih banyak tudingan miring lainnya mereka lontarkan atas hubungan kami.

Baca Juga: Penjabat Wali Kota Kupang Ajak Gereja Terlibat Rumuskan Program Kemasyarakatan

  Omongan miring orang-orang dari kalangan etnis Diana, terdengar jelas di telinga keluarganya. Akibatnya, dari orang tua hingga sanak saudara, kerabat mereka, sangat tidak setuju Diana berhubungan denganku! Jelas, perbedaan etnis dan cara hidup yang jauh terentang adalah faktor utama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Juang Sinyo

Sumber: Cerpen

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

PUISI: RASA TANPA KATA

Minggu, 10 September 2023 | 05:51 WIB

PUISI : Untukmu Ibundaku

Sabtu, 1 April 2023 | 18:16 WIB

PUISI : Tentang Diri

Sabtu, 1 April 2023 | 17:58 WIB

PUISI : Namamu Dalam Sujudku Yang Paling Serius

Minggu, 26 Maret 2023 | 12:09 WIB

PUISI : Deretan Kursi Jadi Saksi

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:44 WIB

PUISI : Rembulan

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:15 WIB

PUISI : Kamu Mencintaiku Adalah Cerita Lucu

Minggu, 26 Maret 2023 | 10:59 WIB

PUISI : Hiasan Cahaya Malam

Sabtu, 25 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Ayah Aku Lelah

Jumat, 24 Maret 2023 | 20:28 WIB

PUISI : Teringat Kembali

Rabu, 22 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Engkau Pulangkan Rindumu

Rabu, 15 Maret 2023 | 21:02 WIB

PUISI: Replika Kenangan ( Oleh: Ryzton Tolan )

Senin, 13 Maret 2023 | 22:39 WIB

PUISI : IBU (Oleh: Norlince Florida)

Minggu, 12 Maret 2023 | 22:42 WIB

PUISI : Kenangan

Kamis, 9 Maret 2023 | 11:25 WIB

PUISI : Di Keheningan Malam

Kamis, 9 Maret 2023 | 10:55 WIB

PUISI : Rindu Yang Bertamu

Rabu, 8 Maret 2023 | 20:16 WIB

PUISI : Rindu

Rabu, 8 Maret 2023 | 17:37 WIB
X