Ternyata, Diana putri dari orang terpandang. Orang tuanya adalah pemilik perusahaan real estate yang telah sukses membangun beberapa perumahan elit di kotaku dan sekitarnya. Tapi Diana tidak pernah sekalipun menunjukkan, apalagi membanggakan, keadaan ekonomi keluarganya.
Ada satu hal yang sering mengganjal aku. Setiap kali kami berdua makan atau nonton atau membeli sesuatu, pasti setelahnya terjadi adu cepat siapa yang membayar. Diana lebih sering memenangkannya, karena alasan yang ia berikan tak bisa kubantah.
"Nanti ada waktunya sendiri kamu akan mengeluarkan uang yang tak ada habis-habisnya untukku," ucapnya lirih seraya menatapku dalam-dalam, penuh arti.
"Tapi kan itu belum tentu, Na," bantahku.
"Jadi kamu tidak ada niat?" ia balas dengan nada tajam.
"Tentu saja aku niat. Cuma kan ...."
"Itu sudah cukup!" potongnya tegas, "jadi, sekarang adalah waktunya aku. Dan kamu, nanti!"
Maka aku hanya bisa terdiam seraya menghela napas.
***
Belum lama waktu berjalan kami lalui dengan bergandeng mesra, mulailah bermunculan ucapan bernada 'miring' ditujukan pada hubungan kami.
Gadis kalangan atas, berhubungan dengan lelaki yang suka nongkrong di pinggir jalan? Apa si gadis buta? Apa sudah tidak ada lelaki lain, yang sepadan, yang mau dengannya?
Memalukan keluarga saja! Bagaimana bisa si gadis terpikat? Pasti lelaki itu pakai guna-guna atau ilmu pelet! Ya, pasti si lelaki mengincar kekayaan keluarga si gadis! Dan masih banyak tudingan miring lainnya mereka lontarkan atas hubungan kami.
Baca Juga: Penjabat Wali Kota Kupang Ajak Gereja Terlibat Rumuskan Program Kemasyarakatan
Omongan miring orang-orang dari kalangan etnis Diana, terdengar jelas di telinga keluarganya. Akibatnya, dari orang tua hingga sanak saudara, kerabat mereka, sangat tidak setuju Diana berhubungan denganku! Jelas, perbedaan etnis dan cara hidup yang jauh terentang adalah faktor utama.
Artikel Terkait
PUISI : DI ATAS MOTOR TUA ENGKAU BERCERITA
PUISI : MENCINTAIMU DALAM DIAM