”Baik, dek, saya ke sana nanti saya kabarin,” ungkap Rikard.
Rikard segera merapikan kertas-kertas di meja. Lalu, bergegas menuju mobilnya, dan berangkat ke Desa Haju Ngendong. Selama perjalanan, legislator Partai Golkar Manggarai Timur itu mengontak beberapa kerabatnya agar siap menemaninya ke lokasi anak cacat itu.
Kurang lebih 4 jam dalam perjalanan dari Borong menuju Elar, kemudian sampailah Rikard di alamat yang dituju yakni di Desa Haju Ngendong. Sebuah rumah berpintu dan berjendela kayu bekas. Tanpa meja dan kursi, dudukpun dilantai tanah beralaskan tikar kusam, terlihat hanya karung-karung plastik dan perabotan bekas yang terlihat tersandar di dinding bambu yang melepuh termakan rayap juga termakan usia.
Seorang perempuan tua terlihat matanya berkaca-kaca menyambut kedatangan Sang Wakil Rakyat. Dia bernama Berta Bawung. Perempuan 48 tahun itu sangat menderita dan penuh dengan kesulitan dalam merawat anaknya yang lumpuh.Telah bertahun-tahun ia berusaha mencari pengobatan alternatif untuk kesembuhan anaknya namun semuanya seolah tak berbuah kesembuhan karena penyakit anaknya kian parah. Dia tidak bisa ke mana-mana lagi hanya pasrah dan doa yang terus ia lantunkan.
Rikard Persly lantas duduk di samping Mama Berta, menanyakan kondisi anaknya sekarang.
”Begini Pak kondisinya. Cuma bisa duduk dan tidur saja,” ungkap Berta.
”Terus saudara yang lain di mana,” tanya Rikard lagi.
Berta pun menjelaskan, sehari-hari mereka hanya tinggal berlima. Kebetulan hari itu, kakanya yang pertama sudah merantau, kedua sudah bersuami, yang ketiga sedang mencari uang, untuk membantu membeli makanan untuk kami sedangkan keempat dan kelima masih kecil.
Dari cerita inilah yang mengoyak rasa iba. Mereka sudah bertahun-tahun seperti itu.Akibat oleh sakit lumpuh yang di derita anaknya terpaksa sang ibu sangat jarang keluar untuk mencari nafkah, terpaksa hanya berdiam diri di rumah.
Baca Juga: Buka Kongres Ke-XVIII Muslimat NU, Presiden Prabowo Apresiasi Dedikasi Muslimat NU
Saat Rikard menyapa si bocah lumpuh namun sama sekali Nisalia tidak memberikan jawaban hanya ada tawa kecil. Miris sekali kisahnya!
Rikard lalu keluar dan mengambil beberapa bingkisan dimobilnya dibantu beberapa kerabatnya untuk mengambil barang bawaannya berupa sembako sebagai wujud peduli kasihnya terhadap sesama yang membutuhkan.
"Bantuan ala kadar ini saya berikan sebagai bentuk kepedulian saya terhadap sesama terkhusus untuk adik Nisalia Sarman dan Keluarga," ungkap Rikard.