Dampak Krisis Ekonomi Dan Politik Terhadap Ketahanan Pangan; Respon Seorang Petani

photo author
Fide Dari, Ide Nusantara
- Sabtu, 7 Januari 2023 | 19:32 WIB
Ilustrasi Petani dan Krisis Pangan (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Petani dan Krisis Pangan (Foto: Istimewa)

Namun, menurut saya, maslah krusial saat ini bukan pada budaya kerja atau basis pengatahuan teknis tentang pengelolaan usaha masyarakat tersebut, melainkan pada ketersediaan modal kerja berupa dana segar. Memang benar bahwa selama ini pemerintah pusat maupun daerah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mempermudah akses masyarakat terhadap modal kerja.

Seperti contoh prodak kredit tanpa agunan rendah bunga, semisal dana kur. Akses permodalan lewat perbankan tersebut, terasa belum benar-benar mudah diraih masyarakat dan pemerataan juga belum benar-benar luas. Mungkin kelemahannya ada pada sistem perbankan itu sendiri. Kesulitan lainnya adalah minimnya ketersediaan alat-alat pendukung kerja.

Seperti contoh yang saya alami sendiri selaku seorang petani dan peternak di desa silu, kecamatan fatuleu, kabupaten kupang – propinsi ntt. Kami mengalami kesulitan untuk memperoleh unit traktor untuk mengolah tanah di lahan pertanian milik kami. Ada juga masalah ketersediaan bibit maupun pupuk untuk mendukung produksi di lahan pertanian kami.

Sharing pengalaman pribadi

Potensi musim hujan dan tingkat curah hujan yang disampaikan oleh bmkg, lewat media masa sangat bermanfaat bagi kami masyarakat, khususnya kami petani. Informasi tersebut yang telah disampaikan keruang publik sejak beberapa bulan lalu sebenarnya sudah menjadi warning bagi para petani untuk dapat memanfaatkan momentum agar tidak terjadi gagal tanam akibat kehilangan curah hujan di awal musim tanam.

Namun apa yang menjadi keprihatinan bagi saya adalah sudah akhir tahun (bulan desember), banyak lahan tanam musiman milik masyarakat yang belum ditanami atau minimal dipersiapkan. Dari hasil pengamaatan dan bincang-bincang saya dengan beberapa pemilik lahan tersebut, terungkap alasan belum dimulai kegiatan bercocok tanam dikarenakan metode penyiiapan lahan tanam adalah tebas-bakar belukar sebagai tahapan pembersihan lahan tidak dapat dilakukan karena lahan dan belukar sudah dalam kondisi basah dan makin lebat akibat curah hujan yang sudah cukup intens.

Mengingat metode penyiapan lahan yang umumnya telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat di daerah kami dengan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan maka saya sangat pesimis bahwa lahan-lahan tanam milik masyarakat tersebut akan dapat ditanami dengan baik.

Oleh karena itu, mengingat bahwa musim hujan masih “panjang”, saya mengharapkan pemerintah dan berbagai komponen di daerah yang berkepentingan untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat bisa lebih responsif dan berkolaborasi untuk dapat memotifasi atau membimbing dan jika memungkinkan dapat menyediakan fasilitas awal untuk membantu masyrakat menyediakan lahan tanam agar para petani tidak kehilangan momen dalam memanfaatkan curah hujan yang masih ada.

Harapan saya jika kita, pemerintah dan masyarakat dapat menyikapi dengan bijak situasi dan kondisi yang ada maka kita akan terhindar dari ancaman kelangkaan pangan tahun depan (2023).

Tentang metode yang selama ini menjadi andalan masyarakat dalam mempersiapkan lahan tanam, kami mengenal dua metode yakni tebas-bakar dan penggunaan herbisida (pengendalian kimiawi) yang sifatnya prefentif. Memang kedua cara tersebut relatif murah dan efektif dalam menyiapkan lahan tanam dan dapat mengendalikan gulma pada lahan tanam.

Khusus tentang metode tebas-bakar, dari sisi waktu relatif singkat dalam menyingkirkan belukar dan tanaman gulma, sedangkan dari sisi manfaat bagi media tanam, dapat menetralkan ph (tingkat keasaman tanah), metode tersebut sekaligus dapat menyediakan unsur hara bagi bibit tanaman yang dibudidayakan karena hasil bakaran menyediakan kalsium, kalium, fosfor, mangan dan mineral lainnya yang sangat dibutuhkan tanaman dalam masa tumbuhnya.

Memang kita tahu bersama bahwa metode tebas-bakar juga berdampak negatif bagi lingkungan alam karena proses pembakaran menghasilkan asap yang menjadi polusi dan miningkatnya emisi karbon.

Jadi secara teknis saya dapat menjelaskan apa yang saya harapkan sebagai masyarakat petani bahwa adanya kolaborasi antara masyarakat dengan pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengupayakan ketahanan pangan masyarakat kecil haruslah diwujutkan dari tahapan meninjau dan menginfentarisir luas lahan milik masyarakat yang rawan gagal tanam karena kondisi ekonomi para pemilik lahan tanam “yang masih tidur”.

Berikut pihak yang ingin membantu masyarakat petani harus dengan rela menyediakan fasilitas pengganti metode “tebas-bakar belukar”, seperti yang saya jelaskan di atas. Bantuan dimaksud, dengan penyediaan fasilitas unit traktor untuk membantu mengolah lahan tanam masyarakat.

Dan tahapan bantuan yang terakhir adalah, mengadakan lalu mendistribusikan pupuk urea dan kapur dolomit (kapur pertanian) untuk mendukung penyuburan tanaman yang dibudidayakan masyarakat pasca penyediaan lahan tanam dan proses penanaman bibit.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Fide Dari

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB

Gizi Anak Bukan Ruang Kompromi

Senin, 2 Februari 2026 | 05:12 WIB
X