Ahmad menunjukkan keprihatinannya terhadap pemahaman banyak anak Indonesia yang menganggap belajar sebagai proses yang hanya bertujuan untuk lulus ujian sekolah. Menurutnya, perspektif ini membatasi ruang dan potensi belajar, karena belajar seharusnya bukan hanya tentang menghafal informasi untuk ujian, tetapi lebih pada pemahaman mendalam, penemuan baru, dan pengembangan keterampilan dan wawasan.
"Ujian itu untuk belajar, bukan sebaliknya," pungkas Ahmad.
Selanjutnya, Ahmad menegaskan bahwa perubahan dalam pendidikan tidak harus datang dari pemangku kepentingan dengan wewenang atau kekuasaan. Sebaliknya, setiap individu, baik guru, siswa, atau orang tua, dapat memainkan peran dalam mendorong perubahan, contoh kecilnya, bisa dimulai dari ruang kelas.
PISA
Pendidikan
Kualitas Pendidikan
Artikel Terkait
Hadiri Ibadah Syukur Panen Jemaat Alfa Omega Labat, George Merasa Bersyukur
Eksotis dan cantik, Inilah rekomendasi desa wisata yang ada di Nusa Tenggara Timur
Vokasi dan Akademik, Intip Perbedaaannya Yuk Biar tak Salah Pilih Pendidikan
Kominfo Beberkan Modus Penipuan WA Kuras Rekening