IDENUSANTARA.COM - Kasus dugaan utang piutang yang melibatkan Kepala Bidang (Kabid) Ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM (Nakertranskop & UKM) Manggarai Barat, Maria Agustina Ivony Burhan, kini menjadi sorotan publik. Emiliana Janggur selaku pemilik uang dan menjadi korban membeberkan kronologi panjang yang menurutnya sarat dengan dugaan tipu daya, mulai dari komunikasi awal bernuansa tekanan hingga penggunaan cerita pribadi untuk mendapatkan pinjaman uang yang berujung pada kerugian sebesar Rp37 juta.
Baca Juga: Dari Curhat Rumah Tangga ke Utang Rp37 Juta: Modus Cerita Sedih Ivon Burhan yang Bikin Pemberi Pinjaman Luluh, Ini Kronologinya
Emiliana menuturkan bahwa interaksi awal dengan Ivon Burhan terjadi secara tiba-tiba melalui sambungan telepon. Dalam percakapan tersebut, Ivon memperkenalkan diri dan mulai menanyakan secara detail mengenai gaji karyawan yang bekerja di vila milik Emiliana. Namun, alih-alih sekadar klarifikasi biasa, Emiliana merasakan adanya tekanan dalam nada bicara yang disampaikan.
"Dia telepon saya, tanya soal gaji tenaga kerja. Tapi nadanya seperti awasan, seolah-olah saya bisa bermasalah kalau tidak ikut UMR. Bahkan dia bilang bisa saja ada demo," ungkap Emiliana pada Senin (13/4).
Menurutnya, Ivon bahkan mengirimkan sejumlah aturan terkait ketenagakerjaan dan menegaskan bahwa usaha yang tidak mengikuti standar upah berpotensi menghadapi konsekuensi serius.
"Dia bilang kalau saya tidak memenuhi aturan, usaha bisa ditutup. Saya merasa itu seperti tekanan," lanjutnya.
Padahal, Emiliana mengaku telah memberikan gaji yang layak kepada para pekerjanya, bahkan disertai fasilitas tempat tinggal dan konsumsi. Ia menegaskan bahwa jika dihitung secara keseluruhan, nilai yang diberikan kepada pekerja justru melebihi standar upah minimum.
Beberapa minggu setelah komunikasi tersebut, pola pendekatan Ivon berubah. Jika sebelumnya terkesan menekan, kali ini ia datang dengan cerita pribadi yang menyentuh sisi emosional. Ivon mengaku mengalami persoalan rumah tangga yang berat, mulai dari konflik dengan suami hingga kesulitan ekonomi.
"Dia cerita panjang, katanya hidupnya susah, rumah tangganya tidak harmonis, suaminya bermasalah dan main perempuan," kata Emiliana.
Cerita itu, menurut Emiliana, membuat dirinya tersentuh dan perlahan menumbuhkan rasa empati.
"Sebagai perempuan, saya kasihan. Saya pikir dia benar-benar sedang dalam kondisi sulit," ujarnya.
Dari situ, hubungan komunikasi keduanya semakin intens. Ivon kemudian menawarkan kerja sama bisnis berupa pengelolaan kafe. Dalam skema yang ditawarkan, Emiliana dijanjikan keuntungan harian dari modal yang diberikan.
"Dia bilang kalau saya kasih uang, saya bisa dapat Rp250 ribu per hari. Jadi seperti usaha bersama, bukan sekadar pinjam," jelas Emiliana.
Skema tersebut berjalan sejak Juli 2024 hingga Februari 2026. Dalam kurun waktu itu, Emiliana beberapa kali memberikan dana yang disebut sebagai modal usaha. Namun, memasuki awal tahun 2026, Ivon mulai mengajukan permintaan tambahan di luar skema kerja sama awal.
Permintaan itu disebut semakin intens, bahkan dilakukan berulang kali dalam sehari.