Tantangan dan Perang Melawan Ketidakadilan; Beberapa Cara Buzzer Mengganggu Aktivis

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Selasa, 6 Januari 2026 | 22:25 WIB
Buzzer (Foto: Ist net)
Buzzer (Foto: Ist net)

Idenusantara.com-Aktivis sering disebut sebagai “pengganggu kenyamanan” oleh mereka yang diuntungkan dari ketidakadilan. Tetapi justru disitulah fungsi mereka: menjadi suara publik yang menolak tunduk pada kebisuan. Namun, di era digital, ancaman yang datang pada aktivis tidak lagi sebatas intimidasi fisik, melainkan juga serangan sistematis dari buzzer. Fakta menariknya, menurut laporan SAFEnet, hampir 40 persen aktivis di Indonesia pernah menjadi target serangan digital, mulai dari doxing hingga framing di media sosial. Artinya, buzzer bukan sekadar akun anonim iseng, melainkan mesin politik yang nyata dampaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihatnya di lini masa Twitter atau komentar Instagram. Seorang aktivis yang berusaha mengkritik kebijakan publik tiba-tiba dibanjiri komentar seragam: ada yang menghina pribadi, ada yang memutarbalikkan fakta, bahkan ada yang menyebarkan fitnah. Yang menarik, pola itu selalu mirip, seperti ada instruksi tersembunyi yang menggerakkan.

Baca Juga: Politik Dagang Sapi: Saat Ideologi Mati di Meja Transaksi

Mari kita kupas tujuh cara buzzer mengganggu aktivis, agar publik lebih paham mekanismenya dan tidak gampang termakan narasi murahan.

1. Serangan Karakter

Salah satu cara paling umum yang dilakukan buzzer adalah menyerang karakter pribadi aktivis. Ketika seorang aktivis mengkritik kebijakan, alih-alih menanggapi substansi, buzzer malah mencari celah pada kehidupan pribadinya. Misalnya, seorang aktivis lingkungan yang menolak proyek tambang justru dituduh sebagai orang gagal, tidak bekerja, atau sekadar mencari perhatian. Tujuannya jelas: melemahkan kredibilitas melalui serangan personal.

Dalam praktiknya, serangan karakter ini sering dikemas dengan narasi yang tampak masuk akal. Ada yang mengungkit pendidikan, ada pula yang menyebarkan foto lama untuk menciptakan stigma. Padahal, substansi yang dikritik tidak pernah disentuh. Di titik ini, publik awam mudah terjebak: mereka mengira aktivis memang bermasalah, padahal yang sedang dilakukan buzzer hanyalah menggeser fokus dari isu ke individu.

Menghadapinya perlu ketenangan. Aktivis yang paham permainan ini biasanya akan tetap fokus ke isu, tidak terjebak pada balasan emosional. Menariknya, di logikafilsuf banyak dibahas tentang bagaimana retorika bisa digunakan untuk melawan framing seperti ini. Saat orang fokus ke logika, bukan gosip, serangan buzzer kehilangan taringnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Makna Persatuan dan Gubernur Melki Tekankan Refleksi Sosial bagi pembangunan daerah Dalam Perayaan Natal Nasional

2. Penyebaran Disinformasi

Buzzer sering mengubah narasi dengan menciptakan informasi palsu. Aktivis yang mengkritik proyek pemerintah bisa dituduh menerima dana asing, padahal tidak pernah ada bukti. Disinformasi bekerja cepat, apalagi di media sosial di mana kecepatan lebih penting dari kebenaran.

Fenomena ini bisa kita lihat di banyak kasus. Seorang aktivis yang vokal terhadap isu HAM tiba-tiba di-framing sebagai simpatisan kelompok terlarang. Di ruang digital, label itu dengan cepat menyebar, menciptakan keraguan publik terhadap suara kritisnya. Ini bukan sekadar serangan, melainkan strategi untuk membunuh legitimasi.

Cara paling efektif melawannya adalah dengan konsistensi data. Aktivis yang selalu berbicara berdasarkan sumber resmi dan penelitian kredibel akan lebih sulit dipatahkan. Di sisi lain, publik juga harus terbiasa mengecek informasi, tidak hanya menelan mentah-mentah narasi yang berseliweran.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB
X