Tantangan dan Perang Melawan Ketidakadilan; Beberapa Cara Buzzer Mengganggu Aktivis

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Selasa, 6 Januari 2026 | 22:25 WIB
Buzzer (Foto: Ist net)
Buzzer (Foto: Ist net)

3. Serbuan Komentar Seragam

Sebuah tanda jelas keberadaan buzzer adalah munculnya komentar seragam dalam jumlah besar. Aktivis yang menyuarakan isu bisa langsung diserang ribuan komentar bernada sama: menuduh, mengejek, atau menyudutkan.

Hal ini membuat seolah-olah publik luas menolak suara aktivis tersebut, padahal kenyataannya komentar itu dikendalikan dari satu pusat. Bagi pembaca awam, keseragaman itu menimbulkan efek psikologis: kalau ribuan orang berkata sama, mungkin memang benar. Inilah kekuatan semu yang diproduksi buzzer.

Strategi ini bisa dipatahkan dengan memperlihatkan kejanggalannya. Aktivis yang cerdas akan menunjukkan pola komentar, bahkan kadang meng-capture kesamaan kalimat untuk mempermalukan operasi buzzer itu sendiri. Publik pun bisa lebih sadar bahwa “keramaian” di media sosial seringkali adalah hasil rekayasa, bukan aspirasi organik.

Baca Juga: Spanduk Desakan Pembentukan Provinsi Luwu Raya Warnai Malam Pergantian Tahun di Kota Palopo

4. Pengalihan Isu

Buzzer piawai dalam mengalihkan perhatian publik. Saat seorang aktivis mengangkat isu lingkungan, buzzer bisa dengan cepat menggiring percakapan ke arah yang sama sekali tidak relevan, misalnya menyoal kehidupan pribadi atau hal-hal kecil yang tak substansial.

Pengalihan ini sangat efektif karena publik digital mudah tergoda pada hal remeh. Isu serius seperti krisis iklim bisa tenggelam hanya karena perdebatan tentang gaya bicara atau pakaian aktivis. Alhasil, substansi hilang, yang tersisa hanyalah kegaduhan.

Aktivis perlu menguasai strategi komunikasi untuk mengembalikan fokus diskusi ke inti masalah. Tidak semua orang paham bahwa pengalihan isu adalah taktik, maka penting sekali ada konten yang menjelaskan cara kerjanya. Ini yang membuat edukasi publik di ruang digital menjadi krusial.

5. Intimidasi Psikologis

Buzzer tidak jarang menggunakan ancaman, baik terang-terangan maupun terselubung. Ada yang mengirim pesan pribadi dengan kata-kata kasar, ada pula yang membuat postingan yang memberi kesan aktivis sedang diawasi.

Intimidasi ini menyasar sisi psikologis. Aktivis bisa merasa tertekan, cemas, bahkan kehilangan keberanian untuk bersuara. Bagi banyak orang, tekanan seperti ini jauh lebih berat daripada sekadar perdebatan di ruang publik. Ketika rasa aman terganggu, suara kritis bisa perlahan padam.

Namun, justru dari titik ini solidaritas publik diperlukan. Dukungan terbuka, komentar positif, atau sekadar menyebarkan ulang narasi aktivis bisa memperkuat mental mereka. Aktivis yang tahu ia tidak sendiri akan lebih kuat melawan tekanan buzzer.

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB
X