Cerpen : Arti Kehilanganmu
Oleh : Valeria Asrianti Hewong ( Mahasiswi Prodi PBSI UNIKA St. Paulus Ruteng, Kelas 2021B )
Gerimis sore ini membuatku merasakan sesuatu, titik air mata seakan mengundang nada–nada yang mengiramakan nyanyian pilu terasa lengkap, dengan angin menghembus lembut namun mampu menggetarkan tubuhku, sambil aku memeluk lutut dan berkata “ Iyah hujan memang selalu mengerti ” kutatap dalam rintik-rintik hujan, tiba tiba aku seperti orang yang terhipnotis, perlahan aku mengingat ke masa lampau, masa yang paling menyakitkan, masih terbayang kisah–kisah dimana kita saling mengenal dan tidak lama kemudian kita memutuskan hubungan kita untuk lebih dari sekedar teman.
Baca Juga: PUISI : Suara Hujan
Aku bahagia tidak? bukan bukan aku tapi kami, iya kami bahagia karena setiap sudut kampus kami hiasi dengan cinta yang kami miliki, 6 bulan berlalu kami terus menjalin warna-warni ikatan yang disebut cinta itu, ikatan yang istimewa dan apa adanya banyak hal yang aku ingat saat itu.
Baca Juga: PUISI : Benci Tapi Rindu
Pada saat itu aku datang kepesta ulang tahun temanku, sesampainya disana aku kaget melihatnya karena satu minggu sebelumnya dia tidak pernah ada kabar. Aku terdiam, sambil bertanya dalam hati kecilku “ mengapa dia tidak menghiraukanku? “ pertanyaan itu membuat aku ragu untuk mendekatkan diri dengannya, tetapi aku tidak boleh salah paham , aku harus percaya bahwa apa yang dia lakukan adalah yang terbaik buat aku dan dia.
Setelah acara itu selesai akupun memutuskan untuk pulang, tiba – tiba aku kaget dia menarik tanganku dari belakang sambil berkata” ijinkan aku untuk mengantarmu pulang “ iya “ jawabku. Malam itu aku curahkan segala isi hatiku dan bertanya ” Mengapa tadi kamu tidak menghiraukanku? “ dia menjawab dan berkata “ Tidak apa–apa “ tetapi yang jelas aku curiga ada hal yang dia sembunyikan dari aku .
Baca Juga: Dubes Italia Kunjungi Kota Kupang Bahas Pariwisata dan Pengembangan Kota
Malam pun berlalu, kembali aku menikmati hari -hariku, tiba–tiba aku mendapat pesan darinya yang berisi “ Untukmu kekasihku, aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu kurang lebih 6 bulan bersamamu, kebahagiaan terbesarku adalah Tuhan bisa mempertemukan aku dengan wanita yang sangat tulus dan baik seperti dirimu, kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku jatuh cinta dan aku berharap kamu tidak akan sedih dengan keputusanku ini. Mungkin kamu bertanya kemana dan dimana aku satu minggu itu sehingga tidak ada sedikitpun kabar dariku untukmu, tetapi yang perlu kamu tahu, bahwa takdir kita yang membuat aku harus berusaha menjauh darimu “Toe Ndoro” adalah pilihan bahwa kita memang harus berpisah, sebenarnya berat sekali bagiku untuk mengungkapkan semua ini. Tetapi seberat apapun itu aku tetap mengungkapkannya sebelum semuanya terlalu dalam dan lebih menyakitkan dan aku sadar bahwa sampai kapanpun hubungan kita hanya sebatas saudara, tetapi kamu tidak perlu khawatir aku akan menjagamu seperti adikku sendiri dan rasa sayangku tidak akan berubah untukmu, terimaksih pesek terima kasih sayang untuk cinta yang sempat kamu berikan “
Baca Juga: PUISI : Dapur Kehidupan Telah Pergi
Setelah membaca surat itu akupun menangis dan kini aku menjalani hari-hariku tanpanya dan barulah aku sadar arti kehilangan dia yang sebenarnya.
Valeria Asrianti Hewong
Artikel Terkait
CERPEN : Cinta yang Tak Direstui
Cerpen : Tangisan Dalam Diam
CERPEN: Tentang Kado Terindah
PUISI : Dapur Kehidupan Telah Pergi
PUISI : Kenangan Indah