Rabu Abu, Berikut Asal-usul dan Makna Perayaannya Bagi Umat Khatolik

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Rabu, 5 Maret 2025 | 10:31 WIB
Penerimaan Abu pada hari Rabu-abu (Foto: @Katolik)
Penerimaan Abu pada hari Rabu-abu (Foto: @Katolik)

 

Pantang dan Berpuasa Rabu Abu

Pantang untuk makan daging ataupun makanan lain dilihat dari yang sudah ditentukan Konferensi para Uskup sudah seharusnya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun.

kecuali jika hari Jumat tersebut termasuk dalam hitungan hari raya. Sementara pantang dan puasa juga harus dilakukan pada hari Rabu Abu serta Jumat Agung untuk memperingati sengsara serta wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Pantang ini dilakukan oleh umat yang sudah genap berusia 14 tahun, sementara untuk puasa mengikat semua usia dewasa sampai umur 60 tahun.

Setiap orang Katolik sangat wajib untuk berpuasa di hari Rabu Abu dan juga Jumat Agung.Puasa dalam umat Kristen berarti hanya makan kenyang sekali dalam sehari dan bisa disesuaikan masing-masing orang seperti kenyang tidak kenyang dan tidak kenyang atau tidak kenyang, kenyang dan tidak kenyang atau tidak kenyang, tidak kenyang dan kenyang.

Baca Juga: Kabar Gembira, Vatikan Sebut Kondisi Kesehatan Paus Membaik

Sedangkan untuk pantang yang juga wajib dilakukan umat Katolik pada hari Rabu Abu serta setiap hari Jumat sampai Jumat Suci yakni berjumlah 7 kali selama masa Pra Paskah.

Yang diwajibkan untuk berpantang adalah semua orang Katolik yang sudah berusia 14 tahun keatas.Pantang ini memiliki arti pantang daging, pantang garam, pantang rokok, pantang gula, pantang hiburan seperti televisi, film dan sebagainya.

Oleh karena ringannya berpuasa dan pantang, maka sudah seharusnya puasa dan pantang ini untuk dilaksanakan sebagai bentuk semangat bertobat untuk semua umat beriman meliputi pribadi, keluarga atau kelompok. 

 

Arti Pantang dan Puasa.

Puasa merupakan tindakan yang dilakukan secara sukarela yakni tidak makan dan minum seluruhnya dalam arti tidak makan atau minum sama sekali atau sebagian atau mengurangi makan atau minum.

Jika dilihat dari segi kejiwaan, maka puasa memiliki arti memurnikan hati sehingga lebih muda memusatkan perhatian untuk berdoa.Selain itu, puasa juga merupakan bentuk dari kurban atau persembahan sehingga puasa pantas disebut doa dengan tubuh sebab dengan menjalankan puasa, maka seseorang akan menata kembali hidup serta tingkah laku dalam segi rohaninya.

Dengan berpuasa, maka kita akan mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan juga kehendak-Nya.Kita akan mengorbankan segala kesenangan dan keuntungan sesaat dengan penuh rasa syukur atas kelimpahan karunia Tuhan.Dengan ini, maka sifat serakah bisa dikurangi sekaligus mewujudkan penyesalan atas dosa di masa lalu.

Dengan berpuasa, maka kita bisa menemukan diri kita yang sebenarnya sehingga bisa membangun pribadi yang selaras puasa akan membebaskan diri kita dari segala ketergantungan jasmani serta ketidakseimbangan emosi dan semangat serupa juga berlaku pada saat kita sedang berpantang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

BENARKAH KITAB SUCI KATOLIK DIUBAH

Rabu, 8 April 2026 | 08:06 WIB

LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Rabu, 8 April 2026 | 08:01 WIB

Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Sabtu, 4 April 2026 | 15:22 WIB

APAKAH SINTERKLAS SUNGGUH ADA?

Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:30 WIB
X