Rabu Abu, Berikut Asal-usul dan Makna Perayaannya Bagi Umat Khatolik

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Rabu, 5 Maret 2025 | 10:31 WIB
Penerimaan Abu pada hari Rabu-abu (Foto: @Katolik)
Penerimaan Abu pada hari Rabu-abu (Foto: @Katolik)



Idenusantara.com-Rabu Abu merupakan hari pertama dari masa Pra Paskah dalam liturgi tahunan gerejawi.Hari Rabu Abu sendiri jatuh setiap hari Rabu, 40 hari sebelum hari Paskah tiba.

Pada hari Rabu Abu ini, semua umat akan datang ke gereja dan diberi tanda salib pada bagian dahi yang menjadi sebuah simbol untuk pengingat umat sebagai tanda kesedihan, penyesalan yang mendalam serta pertobatan.

Berikut ini, kami akan mengulas secara lengkap mengenai asal usul, makna serta perayaan Rabu Abu lengkap, simak, berikut ulasannya!

Baca Juga: GMNI Manggarai Desak Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur Black-list PT Indoraya Jaya Perkasa

Asal Usul Hari Rabu Abu

Penggunaan abu dalam liturgi Rabu Abu ini berasal dari Perjanjian Lama, dimana abu menjadi lambang perkabungan, rasa sesal, berkabung dan juga pertobatan umat.Pada abad ke-5 SM setelah Yunus berseru supaya orang kembali pada Tuhan dan melakukan pertobatan, Kota Niniwe kemudian memaklumkan puasa serta mengenakan kain kabung dan taja menyelubungi dirinya dengan kain kabung sembari duduk di atas abu.

Yesus juga sudah menyinggung tentang pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa walau sudah melihat sendiri mujizat secara nyata dan mendengarkan kabar gembira.

Pada Abad Sebelum 5 Masehi.

Gereja Perdana menggunakan abu sebagai simbolis yang juga serupa. Tertulianus menulis dalam bukunya yakni “De Poenitentia” sekitar 160 sampai 220, jika pendosa yang mau bertobat harus hidup tanpa bersenang-senang dan mengenakan kain kabung serta abu.

Sejarawan Gereja perdana juga menulis dalam bukunya yakni “Sejarah gereja” jika ada seorang murtad bernama Natalis yang datang pada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung serta abu lalu memohon pengampunan. Dalam masa yang sama maka diwajibkan bagi mereka untuk menyatakan tobat di muka umum dan imam akan memakaikan abu pada kepala mereka sesudah melakukan pengakuan.

Pada abad pertengahan, mereka yang sedang menghadapi ajal akan dibaringkan di atas tanah beralaskan kain kabung lalu diperciki dengan abu dan imam akan memberikan berkat pada orang tersebut dengan air suci sambil berkata

,”Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Sesudah itu, imam akan bertanya.
“Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?”
Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.”

Baca Juga: Soal Kasus Korupsi Pertamina, Erick Thohir; Bukan Kecolongan dan Bakal Review Total

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

BENARKAH KITAB SUCI KATOLIK DIUBAH

Rabu, 8 April 2026 | 08:06 WIB

LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Rabu, 8 April 2026 | 08:01 WIB

Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Sabtu, 4 April 2026 | 15:22 WIB

APAKAH SINTERKLAS SUNGGUH ADA?

Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:30 WIB
X